Kalimba dan Cerita Dibalik Revolusi Puisi Haul Bung Karno 2021

 


Kalimba dan puisi, bagaimana ya caranya menggabungkan kedua hal tersebut dalam kesatuan yang utuh? Aku yang notabene sudah hampir dua tahun tak pernah baca puisi di panggung seketika bingung ketika disuruh tampil di acara Revolusi Puisi dalam rangka Haul Bung Karno di Amhiteater Perpus Bung Karno. 

Duh, apa yang akan ditampilkan? Aku berpikir sepertinya kalau baca puisi aja kurang ada sesuatu yang emm, ya aku sih emang sadar diri nggak bisa baca puisi seperti temen-temen teater yang notabene punya skill itu, jadi aku harus mencari cara lain.


DUA MINGGU BELAJAR KALIMBA LANGSUNG TAMPIL

Sedikit gugup, sih, ketika memutuskan memainkan kalimba dengan puisi. Ya maklum aja, aku baru belajar kalimba masih sekitar dua minggu, itu pun belum hapal not angkanya. H-tiga acara, aku berusaha aja ngapalin not angka dari musik yang akan kubawakan. Kemarin miliknya Seventeen, itu adalah lagu yang kumainkan saat di acara. 

Alasan kenapa milih lagu itu sih simple aja, isi lagunya kayak sesuai dengan puisiku yang dibacakan. Meski pada akhirnya saat tampil di panggung, nggak ada yang tahu instrument lagu apa yang sedang kumainkan, hiks, nyesek. :-D

Dua minggu belajar main kalimba memang nggak mudah tapi juga nggak begitu sulit. Kenapa? Ya, karena setiap lagu selalu punya tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Awal belajar Kalimba memainkan lagu Melukis Senja miliknya Budi Doremi. 

Awalnya sih semangat meski pada akhirnya menyerah dan ganti lagunya seventeen. Ya maklum aja sih, aku orangnya gampang bosen. Jadi kalau lagu pertama agak sulit, ya ganti aja. Hehe.

Lagu Melukis Senja terlihat seperti agak sulit, soalnya banyak not angka yang dipetik secara bersamaan. Untuk seorang pemula sepertiku sepertinya jadi makin bubrah.

Akhirnya ganti lagu yaitu Kenangan Terindahnya Samsons, awalnya keliatan mudah sih, tapi kok pake nada rendah semua tanpa digabung-gabung dengan not angka yang tinggi.

Duh. Browsing juga banyak referensi nada. Karena nggak yakin kok pakai nada rendah semua, akhirnya meutuskan ditinggal aja. Wkwkwk.

Setelah melalui perjalanan yang panjang dalam memutuskan hal yang remeh, maka aku memilih memakai lagu Kemarin-Seventeen. Dengan segala persiapan yang serba mendadak, dan puisi yang pernah kutulis di masa lalu. Pada akhirnya apa salahnya mencoba. Demi menemukan karakter membaca puisiku. :-D

Lalu gimana? Gugup Nggak? Ada Kesalahan?

Gugup itu pasti, terlebih masih baru pertama kali membaca puisi pakai kalimba. Dan baru belajar alat musik itu aja baru dua minggu. 

Tapi ya percaya diri aja, untungnya tampilnya di depan teman-teman sendiri, jadi dibuat santai atau selow aja. Trus ada kesalahan? Pastinya, namanya juga pertama kali, dan kolaborasi sama si mamas yang pegang gitar.

Selalu jangan lupakan potoselpi :-D

Sebenarnya sudah banyak persipan, cuman karena dari segi teknis yang kurang matang jadi sedikit menganggu persiapan. Kalimba tidak ada mix yang memadai, ya maklum saja persiapan cek sound cuma sebentar. Yah semua serba mendadak.

Ditengah-tengah main kalimba sebagai prolog sebelum baca puisi, ada kejadian contekan not angka jatuh pula. Yah mungkin karena iwuh karena bunyi kalimba tidak masuk di di mix. Tapi ada untungnya juga, karena sepertinya orang-orang yang menonton tidak terlalu paham lagu apa yang sedang kumainkan. :-D hihi.

Bahagia itu datang tiba-tiba

Selepas acara entah kenapa ada rasa bahagia yang sontak keluar dari pikiran dan perasaan. Ada kebahagiaan ketika bisa membacakan puisi dengan memainkan musik kalimba, meski sayangnya dari segi teknis kk\urang memadai. 

Tapi, okelahh ini pertama kali main kalimba dan baca puisi sudah sesuatu yang menyenangkan. Ada revolusi dari diriku, bukan hanya tentang sebuah puisi yang memiliki perubahan, tapi ada perubahan nyata bagaimana membentuk karakter diri dengan puisi dengan membawa kalimba sebagai salah satu pilihannya. Jadi apa revolusi kalian dalam kehidupan? Setidaknya untuk diri sendiri, mulailah berubah untuk hal-hal sederhana di hari depan. :-D. ***


Post a Comment